VIVAnews - Indonesia memiliki ragam budaya yang begitu banyak dan kesenian tradisional yang beragam. Di tengah membanjirnya kebudayaan modern timbul kekhawatiran kesenian-kesenian tradisional itu semakin terlupakan, salah satunya adalah wayang.
Secara tradisional wayang tak hanya merupakan pertunjukan tingkat elit dan kerajaan, namun juga sering diadakan di candi, pertunjukan pribadi, maupun di desa.
Karakter dan kata-kata dalam pertunjukan wayang merupakan alat untuk mengkritik masalah-masalah sensitif berkaitan dengan sosial dan politik. Dan kesenian ini berhasil tetap hidup selama beberapa-abad karena perannya itu.
Pertunjukan wayang tradisional sekarang ini menghadapi kesulitan untuk menarik banyak penonton, khususnya dari kalangan muda, mengingat tidak terjaganya apresiasi pada generasi muda.
Berangkat dari keinginan untuk menjawab derasnya modernisasi, Sujiwo Tejo ingin berpartisipasi konkrit dalam usaha pelestarian dan pengembangan tradisi pewayangan Indonesia yang diperuntukan bagi seluruh masyarakat yang ingin ikut mengapresiasi dan menyintai dan menikmati seni budaya asli Indonesia.
Sujiwo Tejo bersama beberapa seniman pendukung, termasuk paduan suara Universitas Parahiyangan, berkolaborasi untuk menghadirkan wayang eksperimental yang sudah mengakomodasi kebudayaan modern.
Pertunjukkan ini akan menyuguhkan model pementasan wayang dalam sensibilitas yang kontemporer melalui dongeng yang mempunyai tradisi kuat dalam sastra tutur atau lisan yang lebih aktraktif, dikemas dengan menggabungkan seni teater dan seni tari, serta dipadukan dalam sastra tari, musik, paduan suara dan seni rupa sehingga menciptakan karya seni berupa Dongeng Cinta Kontemporer.
Sujiwo Tejo akan mementaskan Drama Musikal Wayang Kontemporer di Gedung Kesenian Jakarta pada 13-14 November 2009. Pertunjukan ini dikemas lewat Dongeng Cinta Dalam Kontemporer berjudul “Kasmaran Tak Bertanda.”