2012: Mencari Kiamat ke Negeri Cina

Berbeda dengan Independence Day, 2012 'membunuh' Presiden Amerika Serikat.

Selasa, 17 November 2009, 13:41 WIB
Bonardo Maulana Wahono
Film '2012'  

VIVAnews - Roland Emmerich adalah kehancuran. Ia meluluhlantakkan beragam lansekap termasyhur Amerika Serikat dan dunia semacam Gedung Putih dan Empire State Building di Amerika Serikat, Patung Yesus Sang Penebus di Rio de Janeiro, Brazil, atau bahkan Basilika Santa Peter di Vatikan.

Ia ternyata juga pernah berniat menyungkurkan Kabah yang kini masih tegak di Mekah, Arab Saudi, kota bagi peziarah muslim tahunan, dalam filmnya.

"Saya mesti mengakui bahwa saya pernah ingin melakukannya," kata Emmerich seperti dikutip dari The Guardian, "tapi rekan saya Harald [Kloser] bilang harga kepala saya lebih mahal daripada sebuah film."

Si penghancur-segala nyatanya sungkan melawan fatwa pancung.

2012, film terbaru sutradara kelahiran Jerman itu, yang kini menggembungkan bioskop-bioskop dunia dengan penonton yang gemas dan penasaran, menjadi bukti atas ucapannya.

Film yang bersandar dari perhitungan bangsa Maya yang, konon, menaksir bahwa dunia berakhir pada tahun 2012 itu tak jauh beda dengan karya-karya Emmerich lainnya seperti Independence Day atau The Day After Tomorrow. Penonton akan 'dikotori' dengan debu dari bangunan yang lunglai dan poranda, 'dibasahi' oleh air hujan yang berderai liar, serta 'dicederai' oleh tumbukan beton ratusan ton dan mobil yang lintang-pukang. Dunianya bukanlah dunia yang sarat dengan pertukaran antara sunyi, bunyi dan percakapan. Dunianya ramai dengan teriakan, ledakan, dan belulang remuk.

Kisah bermula ketika Dr Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor) dan temannya, seorang ilmuwan India, menemukan bahwa inti bumi mulai meleleh, sesuatu yang dapat memicu bencana alam maha dahsyat. Dr Adrian terkejut, lalu membocorkan fenomena alam itu kepada pemerintah.

Sebuah kelompok bawah tanah pun didirikan, yang didanai sekumpulan orang super kaya dunia. Mereka diam-diam membiayai pembangunan bahtera raksasa demi dapat menyelamatkan diri dari bencana.

Kamera lalu berpindah ke tokoh utama kita, Jackson Curtis, yang dimainkan dengan amat bersemangat oleh John Cusack. Ia seorang penulis novel fiksi ilmiah kapiran beranak dua yang pisah ranjang dengan istrinya.

Cerita mulai bergerak ketika Curtis dan kedua anaknya mengunjungi situs wisata kawah Yellowstone. Di sana ia bertemu dengan Charlie Frost, penyiar radio yang memercayai kiamat terjadi pada tahun 2012. Si penyiar mengungkapkan segala yang ia percayai. Seperti dapat ditebak, penonton sekalian, Curtis menihilkan cerita Charlie.

Namun, perlahan, kisah Charlie berangsur terbukti. California, tempat mereka tinggal, dikerkah gempa sempurna. Tanah rengkah. Rumah goyah. Jembatan berantakan. Aksi penyelamatan a la Emmerich pun terjadilah. Curtis membawa anak-anak dan istrinya, serta lelaki-baru istrinya, menembus kota yang mulai binasa. Mereka coba menuju tempat rahasia di mana bahtera bersandar. Negeri Cina.

Dalam hiruk-pikuk evakuasi, Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk tinggal. Ia ingin 'menemani' warganya yang tak bisa mengungsi. Tidak seperti di Independence Day di mana Presiden AS menjadi semacam 'pemimpin dunia' ketika menghadapi ancaman kebinasaan, 2012 'membunuh' presidennya.

Syahdan, Curtis dihadapkan pada kebetulan-kebetulan yang akhirnya membawa ia dan keluarganya ke Pegunungan Himalaya, tempat parkir bahtera itu. Nah, sampai di sini, kita agaknya sudah bisa membaca ke mana cerita akan berujung. Seorang kepala keluarga yang pernah gagal akan kembali menemukan cinta setelah menjadi pahlawan.

Dalam 2012, Emmerich memasukkan unsur multikulturalisme yang, mungkin, akan membantu pemasarannya. Karakter-karakter dari negeri India dan China muncul pada layar, yang kemudian secara kebetulan berhubungan satu sama lain, meskipun tidak diberikan peran sentral. Dunia juga kiranya ingin menyaksikan secara visual bagaimana kiranya 'akhir dunia' setelah mereka digempur dengan berbagai berita di media tentang kiamat 2012.

Yang pasti, ketika menonton film semacam ini kita tidak perlu banyak bertanya tentang bolong logika di sana-sini. Nikmati saja efek visualnya yang super mahal itu di depan layar putih dan tertawakan ketololan kita sekencang-kencangnya ketika telah keluar dari bioskop.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
ouwbetz
10/12/2009
dunia makin hancur,, atau pemikran kita yang hancur,,? atau pemikiran gue ajha kali yang hancur?? aaaaarrrrgggghhhhh..... HANCUR....
Balas   • Laporkan
IKa
06/12/2009
Ternyata filmnya ga seru-seru amat, mendingan nonton newmoon............
Balas   • Laporkan
zilly
05/12/2009
iya....masa sih masih ada yg selamat,klo kiamat ndak ada yg tersissemua ciptaan allah swt pasti udah gak ada
Balas   • Laporkan
kondenk
04/12/2009
Namanya aja film. Nonton jangan pakai logika tapi pakai mata aja he.he..Udah nonton kasih komentar ini itu kayak pengamat film.Biar dibilang nggak ketinggalan..
Balas   • Laporkan
anak.lolo2
04/12/2009
klo udah kiamat tuh gak ada yang hidup lgi gan....tpi ini kan cma film ...
Balas   • Laporkan
Pipit
03/12/2009
btulllllll....... mana mgkin kiamat ada yg tau???? pa lagi ada yg selamat.. emng dya Tuhan?????
Balas   • Laporkan
Dadu
02/12/2009
Kiamat kok bisa diprediksi...azal mannusia atau gempa aja aja gak ada orang didunia ini bisa memperkirakan tanggal datangnya
Balas   • Laporkan
ibnu sanjaya
01/12/2009
hikz,., q blum nonton,.,., jd pnasaran,.,.,???? bgus gk sech???
Balas   • Laporkan
yani
30/11/2009
Film yang bagus yang pernah saya tonton salut ........................2012
Balas   • Laporkan
reza
24/11/2009
kiamat!!!! masak da orang selamat
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ