VIVAnews - Ketika menyoal ajal, kita kerap terlempar ke dalam krisis. Kematian begitu tak teraba, namun juga begitu niscaya. Dan kadang, kala berada di dalam kebimbangan itu, manusia jadi penuh daya menentangnya, atau bahkan jadi semakin nelangsa.
Sebutlah Apocalypse Now, Schindler's List, atau Platoon. Kematian di sana begitu beraroma darah, yang menyakitkan dan inhuman. Ia diletakkan jauh dari keseharian kita yang acap penuh humor dan menenggang derita.
Mungkin, kita juga perlu menoleh kepada film Departures, diputar di ajang JiFFest 2009, yang ingin melihat kematian dengan cara lebih santun dan sederhana. Sebagaimana hidup, kematian dalam film itu sama punya wibawa. Ia, kiranya, seturut dengan renungan sastrawan Jepang Yukio Mishima, yang tulisannya banyak berisi tentang tema kematian: Jika kita amat memuliakan hidup, kenapa kita tak memuliakan kematian dengan sama tingginya?
Diarahkan oleh sutradara negeri sake Yojiro Takita, yang lebih terkenal dengan film-film 'semi biru', Departures berpusat pada dunia seorang pemuda cemas di paruh tigapuluhan usianya, Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki). Mulanya, ia merupakan seorang pemain cello pada sebuah orkestra di Tokyo. Selalu merugi, grup itu lantas bubar dan memaksa Daigo kehilangan pekerjaan. Ia memutuskan pulang ke kampung halamannya. Istrinya (Ryoko Hirosue), seorang penata grafis mapan, mendukungnya.
Di kota kelahirannya, sebuah daerah yang nyaris pastoral, ia menyambangi sebuah kantor atas petunjuk sebuah iklan lowongan pekerjaan. Di sana, ia bertemu dengan pemilik kantor itu (Tsutomu Yamazaki), serta sekretarisnya yang agak kenes. Ia hanya mendapat satu pertanyaan dalam wawancara: "Apakah kamu sanggup bekerja keras?" Daigo, setengah ragu, menjawab, "Ya." Ajaib. Ia diterima, dan langsung mendapat gaji di muka.
Namun, pekerjaan itu membuat Daigo berjalan di atas beling, yang bikin perih dan senewen. Ia dicemooh oleh lingkungannya sebab masyarakat tempat ia tinggal percaya bahwa bersinggungan dengan kematian merupakan noda. Bahkan istrinya, ketika akhirnya mampu menyibak pekerjaan suaminya, mencampakkannya sendirian.
Tapi Daigo adalah seorang pemusik. Hidup, baginya, selalu bergesekan dengan irama yang tak selalu datar. Ia semakin menyuntuki pekerjaannya sebagai perias jenazah, dan menemukan hal-hal baru yang membuka matanya. Prosesi yang ia jalani di beberapa rumah, yang kadang ricuh, menganugerahinya pandangan baru tentang kematian.
Sebagai misal, ada seorang lelaki yang istrinya meninggal karena sakit parah. Wajah si mayat jadi sehijau fosfor dan sekusam tembok kuburan. Sang suami tak terlihat berada dalam duka. Atasan Daigo lantas menghias jenazah itu. “Tolong ambilkan gincu kesayangan istrimu,” kata atasan Daigo. Sang suami mematung. Anaknya pilih bangkit dan mengabulkan pinta si perias. Sim salabim. Si mayat kembali punya rona, dan si suami meletupkan ruangan itu dengan tangisnya.
“Kita mendandani jenazah agar mereka terlihat menawan dalam perjalanan menuju keabadian,” jelas mentor Daigo. Dan itu jelas melecutkan lagi semangatnya yang sempat pudar karena ditinggal istrinya. Semakin dekat Daigo pada kematian, semakin riang pula ia menjalani hidupnya. “Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa,” kata penyair Subagio Sastrowardojo.
Selain itu, Daigo sadar bahwa pekerjaan barunya itu menjadi situs ziarah bagi dirinya menuju masa lalunya yang kelam. Ia ditinggal ayahnya sejak kecil. Ibunya meninggal belakangan. Selama bertahun-tahun, ia gagal mengingat wajah ayahnya. Hingga akhirnya suatu momen di ujung film membantunya melukis lagi wajah ayahnya di ingatannya.
Dilatarbelakangi musik olahan Joe Hisaish, seorang komposer yang tenar sebagai pembuat score bagi film-film animasi Hayao Miyazaki, Departures agaknya mampu menggugah juri-juri panggung Oscar untuk mengganjar film itu sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik tahun ini. Meski demikian, banyak kritikus berpendapat Gomorrah, film setipe City of God yang bersetting di kota Napoli, Italia, dan Waltz with Bashir, animasi-dokumenter tentang konflik Israel-Libanon, lebih layak mendapatkan piala itu. Namun kita tahu, Oscar selalu dekat dengan kata kontroversi.
Di luar sengketa itu, Departures mungkin memang layak dapat Oscar. Kelebihannya adalah kematian, sebagai tema besar, mampu dijentikkan pada layar dengan cara yang halus dan ringan. Pun dengan pemeranan cukup meyakinkan. Tak ada dialog maupun alur yang bikin pusing kepala. Detil dan pengenalan konflik antar-karakter dengan bertahap mampu mengolah emosi penonton dengan baik.
Maka, kita bisa mencandu pada adegan ini: Seorang anak mengantar jenazah ibunya di perabuan. Di sisinya, seorang operator mesin perabuan, yang merupakan karib si ibu. Sang operator berkata kepada si anak, "Setelah lama bekerja di sini, aku anggap kematian itu sebagai gerbang menuju dunia baru." Tombol api kemudian ia nyalakan. Woosh. Bilik intip sontak berubah jingga menyala. "Pergilah dengan tenang," kata si operator, "dan semoga kita berjumpa pula."