VIVAnews - Pada dermaga itu, orang-orang - perempuan dan lelaki, ayah dan suami, atau para kanak yang mendurhakai bapak dan emaknya - menyerahkan hidup mereka pada bentang cakrawala. Leher-leher yang gelisah siap disembelih. Mata merayap pada pucuk bedil. Sepatu lars beradu deru dengan gelombang Selat Ombai. Kalender menunjuk Desember 1975.
Seorang kulit putih berpakaian khaki diseret dua tentara ke bibir kade. Ia memekakkan udara pelabuhan yang anyir dengan teriakan, "Saya seorang Australia. Saya seorang Australia." Sebagai latar belakang, orang-orang berlutut pada lantai dan mengingat doa-doa. Seorang petinggi militer Indonesia dengan safari cerah melakukan inspeksi di antara para teraniaya.
Si Australia, sembap dan gemetar, diangsurkan ke tubir dermaga. Tubuhnya yang tua dan tambun bergoyang pelan serupa bandul jam. Mulut senapan hanya berjarak beberapa lengan dari hidungnya. Dalam keterjepitannya dengan maut itu, ia menggumamkan lagi keakuannya, "saya seorang Australia." Dan, bam. Sebuah peluru mendorongnya kepada ombak di bawah.
Dalam situasi perang, kematian memang bukan sesuatu yang muskil. Ia hadir dengan begitu angkuhnya, juga demikian menggetarkan, seperti terlihat dalam eksekusi itu, yang dapat kita lihat di film Australia Balibo Five, karya sutradara Robert Connolly. Si Australia adalah seorang wartawan AAP dan Reuters untuk Australia, Roger East (Antoni LaPaglia), yang datang ke Timor Timur (kini Timor Leste) untuk mencari tahu tentang hilangnya lima wartawan muda Australia di Balibo, Distrik Bobonaro, 10 kilometer dari Timor Barat.
Namun, Balibo Five tak melulu bertutur tentang aneksasi. Diputar di Utan Kayu dan Salihara, setelah gagal LSF tak meluluskannya ke JiFFest, film itu mendedahkan kepada penontonnya brutalitas tentara, dalam hal ini TNI, terhadap segala yang dianggap sebagai musuh. Termasuk juga para jurnalis yang jadi korbannya: Greg Shackleton (27), Tony Steward (21), Gary Cunningham (27), Malcom Rennie (28), serta Brian Peters (29). Di sini, para penonton mesti punya kearifan. Pengetahuan tentang sejarah konflik di Timor Leste sungguh penting.
Dengan alur maju-mundur, film ini dengan detil memperlihatkan petualangan East dan Ramos Horta (Oscar Isaac) menyusuri pedalaman Balibo untuk menemukan para wartawan muda itu. "Semua jalan ditutup menuju ke sana ditutup," demikian Horta, "kita hanya bisa berjalan kaki." Kamera meyibakkan wajah East yang meringis. "Tapi kamu tak lagi muda," kata Horta pada East. "Kamu masih muda. Kamulah yang mesti mengatur ritme," jawab si Australia.
Rute yang ditempuh Horta dan East sebagiannya juga pernah dilalui oleh para wartawan muda yang hilang itu. Kita diajak keluar-masuk layar melalui tokoh yang berbeda. Hingga saat ketika mereka tiba di Balibo. East dan Horta ditumbukkan pada lanskap yang tak menenteramkan: Tanah kering-rengat. Rumah-rumah gosong-senyap. Tubuh-tubuh rebah dan kehabisan darah. Horta lunglai dalam ratapan. East hibuk menyeka air matanya. "Biadab!" lolong Horta di terik siang yang limbung.
Tak lama, setelah menguburkan mayat-mayat itu, mereka memasuki desa tempat lima wartawan muda itu mati. Kamera berpindah ruang. Kita dibawa pada masa ketika TNI memasuki desa itu. Kini terlihat pasukan Fretilin, yang biasanya melindungi para wartawan itu, kocar-kacir. "Kita harus pergi," kata komandan pasukan kepada salah satu wartawan. "Tidak, belum cukup," jawab si jurnalis. Ia bermaksud mengambil gambar penyerbuan TNI, tapi cahaya belum lagi sempurna untuk mengaktifkan kamera. "Sebentar lagi," tegasnya.
Dengan terhuyung, akhirnya para wartawan berhasil menyorot pasukan TNI yang berganti seragam dan menyalakkan senapan ke arah mereka. Untung tak dapat diraih. Mereka terkepung dan tersudut di sebuah rumah yang dinding luarnya mereka gambari bendera negara mereka dan menyebutnya Kedutaan Australia. Seorang dari mereka memutuskan berunding, atas nama profesi. Malang tak dapat ditolak. Pistol diledakkan di kepalanya. Menit-menit berikutnya, layar diisi dengan eksekusi empat orang wartawan lainnya. Demi menutupi jejak, para tentara yang gawal itu membakar jenazah-jenazah muda itu dengan seluloid.
"TNI tak seperti itu. TNI Pancasilais," tegas Sutiyoso seperti dikutip dari majalah Tempo. Balibo Five memang bukan film dokumenter meskipun secara sinematik ia ditampilkan selayaknya film dokumenter. Gambar-gambarnya garing, dominan kuning. Jika Anda sudah menonton The Year of Living Dangerously, film Australia tentang Indonesia 1965 dari sudut pandang wartawan negeri kangguru itu, Anda akan menemukan teknik yang sama.
Seperti layaknya sebuah film yang merujuk pada sejarah, tokoh rekaan bertaburan di Balibo Five. Salah satunya adalah Juliana, seorang anak yang ditemui Roger East di hotel tempatnya menginap. Juliana dalam film itu diletakkan seakan-akan saksi mata 'beneran' atas hari pertama invasi TNI ke Dili. Dari matanya juga penonton menyaksikan eksekusi Roger East.
Sebagaimana East, yang di penghujung hayatnya pada film itu menekankan ke-Australian-nya, Balibo East memang kental dengan persepsi Australia. Keseluruhan detail film ini didasarkan atas keterangan 7.824 saksi mata kepada Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) Timor Leste. Sejarawan Dr Clinton Fernandez dari Akademi Pertahanan Australia di Universitas New South Wales dipakai untuk memandu konteks sejarahnya. Setumpuk dokumen dari Timor Timur, Australia, Inggris, Amerika, sampai Portugal, minus Indonesia, ditilik.
Bagaimanapun, kita patut bersyukur. Film ini menggugah lagi ingatan kita tentang suatu zaman ketika kekuasaan begitu represif. Pada titik tertentu, kiranya, kita bisa mengingat lagi kata-kata Roger East kepada Horta di film itu: "Saya harus tinggal. Jika saya pergi, maka tak ada lagi pengabar yang tinggal di sini." Memang, kebenaran tak selalu tunggal. Dan dalam konteks sinema, bukan sejarah, film itu memiliki kebenarannya sendiri.