“Muallaf”, Perjalanan Berliku Menemukan Tuhan

Film menampilkan perjalanan orang-orang mencari Tuhan ini bisa jadi inspirasi kehidupan.

Kamis, 24 Desember 2009, 11:07 WIB
Petti Lubis
Adegan Film Muallaf (dok. Jiffest)

VIVAnews - Perjalanan tentang orang-orang yang menemukan Tuhan memang selalu menarik untuk diikuti, dan terkadang menjadi sebuah inspirasi kehidupan. Sebuah film karya sutradara perempuan Malaysia yang telah tutup usia ini, yaitu Yasmin Ahmad bertajuk "Muallaf" (The Convert) adalah salah satu dari sekian kisah menyorot tentang kesadaran untuk kembali pada sang Khalik. Sempat diputar dalam perhelatan tahunan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 lalu, film ini baru akan diputar di Malaysia pada 24 Desember ini setelah sebelumnya mengembara dalam berbagai festival film.

Film yang dibuka dengan kalimat beraksara Cina dengan arti "Basmalah" ini memiliki sentral kisah pada tiga karakter yang mewakili kaum muda negeri jiran dewasa ini. Mereka adalah Ana atau Rohana yang dimainkan Sharifah Aleysha. Lalu, ada Ani atau Rohani yang diperankan aktris muda Sharifah Amani. Keduanya dalam kehidupan nyata adalah putri dari Fatimah Abu Bakar, salah satu seniman veteran Malaysia. Selain mereka ada satu peran penting yang dimainkan oleh pria Tionghoa Malaysia Brian Yap yang berperan sebagai karakter Brian Goh, guru sejarah di sekolah Ani.

Pasca kematian ibu Ana dan Ani, sang ayah menikah lagi dengan Datin (diperankan Ning Baizura). Tidak cocok dengan Datin, Ani pun dihajar habis-habisan. Salah satu adegan ekstrim dan cukup mengundang kontroversi di negeri jiran adalah adegan pembotakan kepala oleh ayah Ana dan Ani yang dipanggil Datuk. Walaupun seorang penganut muslim, Datuk yang memiliki kekuasaan serta kekayaan ini lebih senang ke bar dan mabuk. Trauma masa lalu telah membawa kakak beradik Ana dan Ani lari dari rumah dan bersembunyi di Ipoh sebuah kota kecil di Malaysia.

Sedangkan Brian adalah seorang pemuda Katolik yang juga mengalami trauma mendalam karena di masa kecil kedapatan membaca majalah porno oleh sang ayah, seorang pastor. Brian pun diseret ke muka umum dan ditelanjangi oleh sang ayah. Sejak itu, pemuda ini apatis dengan agama yang dianutnya dan tidak pernah ke gereja lagi.

Sama seperti Ana dan Ani, Brian berusaha keluar dari mimpi buruk masa lalu dan memilih untuk hidup sendiri di kota kecil Ipoh. Begitu apatisnya Brian dengan dogma agama, kita akan melihat beberapa adegan Brian yang tidak peduli ketika sang ibu menelpon mengajaknya untuk ke gereja di hari Minggu.

Ketiga tokoh utama yang dipersatukan oleh "penderitaan" masa lalu ini akhirnya berusaha menguburnya dengan saling berinteraksi satu sama lain. Brian tidak sungkan untuk menunggu Ana dan Ani menunaikan shalat di mesjid ketika panggilan adzan datang. Sebaliknya Ani tidak berhenti mengingatkan Brian untuk selalu menghormati sang ibu yang mengingatkannya untuk ke gereja.

Beberapa adegan dalam “Muallaf” memang cukup unik. Salah satunya adalah adegan Ana yang seringkali meneriakkan nomor ayat yang ada dalam kitab Injil. Atau, simak saja pembacaan ayat suci Al-Quran di rumah sakit yang kerap dilakukan oleh Ana dan Ani pada seorang anak perempuan Cina bernama Mei Ling yang koma akibat dipukul orang tuanya. 

"Muallaf" memang sebuah film yang menarik. Film ini tidak berusaha menggurui pada penonton mana ajaran agama yang baik dan mana yang jahat. Lewat interaksi yang mengalir dari Ana, Ani serta Brian, kita akan melihat bahwa terkadang ajaran agama yang kerap jadi simbol kebenaran paling hakiki bisa menimbulkan efek lain berupa trauma mendalam bagi beberapa penganutnya.

Di ajang festival film, "Muallaf" sudah memenangkan penghargaan bergengsi "Special Mention Best Asian-Middle Eastern Film" pada gelaran Tokyo International Film Festival 2008. Film ini juga telah diputar di berbagai festival seperti; Locarno International Film Festival 2008, Pusan International Film Festival 2008 serta Rialto Film Festival di Amsterdam.

Tercatat ini adalah film kelima milik Yasmin Ahmad setelah tetralogi "Rabun", "Sepet", "Gubra" dan "Mukhsin". Yasmin yang mengawali karir menjadi seorang copywriter di biro iklan Ogilvy & Mather Kuala Lumpur ini merupakan salah satu sineas muda Malaysia yang bersinar. Pada 25 Juli lalu, Yasmin harus menghadap sang Khalik karena serangan jantung. Ratusan orang dari berbagai latar mengantar ke peristirahatan terakhirnya di Subang Jaya-Selangor. 

freddy.wally@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
Fajar
28/12/2009
Hmm Kerennn, jadi gak sabar pengen nonton? kira2 tayang di sini kapan ya? *gak sempet nonton di Jiffest kemarin.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau