VIVAnews - Mengikuti tradisi sineas Hongkong dan Cina, Jingle Ma kembali berlakon lewat karya kolosal.
Kali ini sang sutradara mengangkat cerita rakyat tentang pahlawan perempuan Cina Hua Mulan. Cerita ini bukan kali pertama dibawa ke layar lebar.
Satu dekade lampau Walt Disney Pictures, pernah mengangkatnya. Tentunya dengan keahlian utama Disney, dalam bermain animasi.
Jingle Ma dikenal menyutradarai film-film Jacky Chan. Sebut saja "Rumble In The Bronx" yang mencetak hits di pasar Amerika Utara. Berangkat dari seorang kamera person ia mulai dilirik ketika menyutradarai "Fly Me to Polaris."
Jingle Ma mempercayakan peran utama kepada Vicky Zhao, yang dikenal oleh pemirsa Indonesia melalui layar kaca "Princess Pearl I".
Mu Lan, gadis tomboy, menguasai kung fu dan menggantikan sang ayah yang tengah sakit pergi ke medan perang. Tapi Mu Lan kali ini tidak mempunyai naga merah kecil sang pelindung seperti di animasi.
Pergulatan politik militer, kejamnya perang dan cinta terlarang menjadi rumusan film ini. Bakat kepemimpinan dan bekal kemampuan bela diri membantunya dalam menapaki tangga jabatan di militer.
Dengan pesat jabatan jenderal pun digapainya. Berhadapan dengan Komandan kejam Suku Rouran Meng Du pun ia lakoni hingga mengorbankan sahabatnya sejak kecil, Tiger. Apalah artinya film kolosal tanpa percikan cinta didalamnya. Mu Lan menemukan percikan cinta yang terlarang dengan Jenderal Wen Tai.
Meski rahasia identitas Mu Lan ditutupi dengan pakaian pria, tapi sepertinya Jingle Ma tidak terlalu berusaha menutupinya. Karakter tomboy yang kuat oleh Vicky dianggap cukup oleh Jingle Ma.
Ia menunjukkannya di beberapa adegan, dalam karakter Mu Lan sebagai perempuan. Emosi kerap kali ditunjukkan Mu Lan, terutama dalam mengambil keputusan saat perang.
Paruh kedua film, Mu Lan ditunjukkan sebagai seorang perempuan yang juga merupakan pemimpin tangguh. Meninggalkan 20 ribu pasukan yang kelelahan guna menghadapi Meng Du seorang diri.
Wen Tai yang ternyata merupakan putra ke tujuh Kaisar menyerahkan diri kepada pihak musuh. Mu Lan pun bekerja sama dengan Istri Meng Du untuk membebaskan Wen Tai.
Sebagai rasa terima kasih, jabatan Panglima Besar pun diberikan Kaisar kepada Mu Lan. Namun jabatan itu ia tolak. Cerita tidak berhenti disini, bagaimana dengan cinta terlarang itu, Jingle Ma mengakhiri film dengan ciri khasnya.
Genre action yang diusung kurang mewarnai film. Slow motion dalam adegan perang kurang memberikan rasa action itu sendiri. Latar musik, juga kurang memberikan dukungan adegan-adegan perang. Tema jangan menyerah lebih menonjol ketimbang membela sebuah prinsip. Namun secara keseluruhan, film ini cukup baik.
Film ini akan ditayangkan besok, 31 Desember untuk Midnight dan tayangan reguler pada 6 Januari 2010 di Blitzmegaplex.