Jamila dan Sang Presiden

Sosoknya seperti menyimpan dendam. Ia cantik, membuat banyak lelaki tertarik.

Kamis, 30 April 2009, 15:36 WIB
Finalia Kodrati, Gestina Rachmawati
Jamila dan Sang Presiden (facebook.com)

VIVAnews - Sosoknya seperti menyimpan dendam. Ia cantik, membuat banyak lelaki tertarik. Ia bak kupu liar, indah namun tak tersentuh. Ia bertahan, mencoba untuk menepis tiap keluhan. Perempuan itu, Jamila namanya.

Jamila (Atiqah Hasiholan) lahir di tengah masyarakat dimana menggadaikan anak sudah dianggap sebagai suatu hal yang biasa bahkan membudaya. Alasannya pun klise, kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Lahir cantik, Jamila kecil (Eva Celia) pun dijual sang ayah pada mucikari. Beruntung, sang ibu berhasil menyelamatkan putrinya yang masih berusia enam tahun. Ia pun dititipkan di rumah Bu Wardiman (Jajang C. Noer), salah satu keluarga terhormat di Jakarta.

Disana ia hidup berkecukupan. Ia sekolah, belajar mengaji, dan tekun sembahyang. Sayang, semua berubah bak petaka ketika Jamila kecil beranjak dewasa. Kemolekan tubuhnya membuat dua orang lelaki di keluarga Wardiman tergiur. Tanpa setahu Bu Wardiman, Jamila digilir setiap malam. Suara mengajinya pun berubah jadi rintihan. Kejadian itu berujung pada kematian. Jamila membunuh kedua lelaki itu. Ia pun kabur dari rumah keluarga Wardiman.

Pelarian mempertemukannya dengan Susi (Ria Irawan). Ia berniat untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah demi sang adik, Fatimah. Ia berupaya menjadi TKI, sayang, orang lebih tergiur akan kemolekan tubuhnya. Sampai akhirnya Jamila benar-benar terjerumus.

Hingga suatu pagi, seluruh negri terperanjat. Seorang anggota kabinet (Adjie Pangestu) ditemukan tewas di suatu kamar hotel. Belum habis rasa terkejut masyarakat, tiba-tiba muncul Jamila di kantor Polisi. Ia mengaku sebagai sang pembunuh menteri. Seluruh matapun terfokus pada perempuan itu.

Kasus ini menjadi bara kontroversial. Kemarahan dan tekanan kaum fanatik membuat wanita cantik itu dijebloskan di sebuah penjara khusus. Ia ditempatkan di LP Budiluhur, lengkap dengan sipir wanitanya yang terkenal tegas dan ditakuti, yakni Ibu Ria (Christine Hakim).

Dengan gaya flashback, seluruh perjalanan Jamila sejak dijual ayahnya hingga benar-benar terjerumus ke dunia pelacuran menggambarkan betapa seluruh nilai dan norma saling bertarung. Jamila melebur dalam kilasan luka yang menggurat kisah hidupnya.

Sehari sebelum Jamila menyerahkan dirinya, ia bertemu dengan Ibrahim (Dwi Sasono). Pengusaha muda itu tertarik pada Jamila. Rasa cintanya dibuktikan dengan membela sang terpidana. Sayang, Jamila menolak dibela. Bahkan ia pun enggan mencari grasi dari sang Presiden. Wanita itu lebih memilih menunggu hari kebebasannya sendiri.

Langkah Jamila menuju tempat eksekusi pun dihitung mundur. Alunan ayat-ayat suci ikut mengiringinya. Tak satupun yang digubrisnya. Tidak sang sipir, bukan pula Ibrahim. Ia teguh pada pendiriannya untuk bebas. Bebas dari segala beban yang menghimpitnya selama ini. Bebas dengan caranya sendiri.

Film Jamila Dan Sang Presiden berangkat dari panggung teater tiga tahun lalu. Sang sutradara, Ratna Sarumpaet, sengaja menyuguhkan tema woman trafficking. "Ini seperti potret kita, tentang bagaimana miskinnya moral kita," ujar Ratna Sarumpaet. Kemiskinan sering disebut-sebut untuk menyudutkan moral bangsa ini.

Film yang akan tayang pada 30 April 2009 ini, juga menitipkan cinta ditengah carut marut norma dan nilai.

• VIVAnews
Rating
Komentar
agungnarendra
23/05/2009
The Best Movie ever sepanjang tahun 2009, Stunning, a very good performance. Outstanding job for all the actors and the actress. Inilah yg saya bilang karya masterpiece, karya yang isinya sangat padat pesan moral dan mudah-mudahan dapat mengetuk pintu hat
Balas   • Laporkan
Alkaryana
05/05/2009
I wonder if Ratna Sarumpaet would turn the story into a book/novel. Albeit there has been a book on similar topic: Mimi Lan Mintuna by Remy Sylado. Kalau belum, ini sebagai saran juga. Sepertinya ceritanya dan pesannya akan lebih sampai kepada target read
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ