Menggiring 'Garuda Di Dadaku'

"Anak-anak punya cara tersendiri untuk menikmati hidup dan meraih impian,"

Rabu, 17 Juni 2009, 10:54 WIB
Finalia Kodrati, Gestina Rachmawati
Film Garuda Di Dadaku  

Bayu (Emir Mahira), bocah kelas enam SD ini punya impian jadi pemain bola, sama seperti almarhum ayahnya. Sayang, sang kakek menentang keras cita-cita cucunya. Kakek Usman (Ikranagara) lebih suka bila Bayu berada di jalur yang 'tepat'. Yakni berprestasi di sekolah dan pintar di bidang seni.
 
Hari-hari Bayu dijejali dengan berbagai macam les. Mulai dari les Matematika, drum, hingga les lukis. Meski ogah-ogahan, Bayu menuruti kemauan sang kakek. Toh, kata kakeknya, segala macam les itu demi kebaikan Bayu juga.
 
Sibuk les sana-sini, Tak lantas membuat pecinta bola ini melupakan impiannya. Suatu hari Bayu dan Hendri bertemu dengan Pak Johan (Ari Sihasale), seorang pelatih sepak bola. Ia pun mendapat kesempatan untuk meraih beasiswa sekolah bola. Tapi ternyata, perjuangan ke sana tak semudah yang dibayangkan.
 
Selain tak menemukan lapangan untuk berlatih, bocah kecil inipun takut ketahuan sang kakek. Daripada dilarang, Bayu memilih untuk berlatih bola dengan sembunyi-sembunyi. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya. Ada Hendri (Aldo Tansani), sahabat sekaligus motivator Bayu yang juga penggila bola, meskipun ia hanya bermain di balik kursi rodanya. Ada juga Zahra (Marsha Aruan), sahabat misterius Bayu yang jago melukis.
 
Keinginan Bayu makin kuat saat ia tau bahwa uji seleksi Tim Nasional akan segera diadakan. Ia ingin ikut berlaga di arena Internasional. Bocah kelas enam SD ini pun tak kenal kata putus asa. Apalagi di sampingnya ada Wahyuni (Maudy Koesnaedi), ibundanya. Meski awalnya Wahyuni tak setuju dengan sikap Bayu yang membohongi sang kakek. Naluri keibuannya berkata lain. Ia pun membela sang buah hati, dengan satu syarat, setelah uji seleksi Tim Nasional usai, Bayu harus jujur di hadapan kakeknya.
 
Konflik muncul saat tiba-tiba Kakek Usman tau kebohongan cucunya. Ia bergegas ke tempat Bayu berlatih bola. Tepat saat tendangan Gol Bayu tercipta, saat itu pula kakek Usman limbung. Ia terkena serangan jantung.  
 
Rasa bersalah pun mendera hati kecil Bayu. Rasa sedih dan menyesal bercampur aduk. Demi kesembuhan sang kakek, Bayu pun rela membuang impiannya untuk mengikuti seleksi Tim Nasional. Sementara waktu seleksi kian dekat, kakek Usman tak kunjung siuman dari pingsannya. Akankah 'Garuda Di Dadaku' kembali dikumandangkan? 
 
"Garuda di dadaku,"
"Garuda kebanggaanku,"
"Kuyakin hari ini pasti menang.."

 
Film 'Garuda Di Dadaku' memang berbeda. Ada Kakek Usman yang merasa sudah banyak makan garam, hingga seolah tau apa yang terbaik untuk cucunya. Ada Wahyuni, sosok orangtua tunggal yang mencoba bersikap bijak. Ada Bayu yang ingin mengejar impiannya. Hendri, yang selalu penuh semangat. Hingga Bang Dulloh, pengasuh Hendri yang kocak. 
 
Lagu-lagu soundtrack film ini seolah tak mau kalah dengan ceritanya. Tata musik yang disuguhkan pasangan musisi Aksan dan Titi Sjuman berhasil membuat penonton terhipnotis. Band Netral pun ikut menyumbang suara lewat arransemen 'Garuda Di Dadaku'. Tiap alunan musik yang terdengar seolah klop dengan adegan di film ini. 
 
Film yang rilis 18 Juni 2009 ini juga cocok untuk anak-anak. Mengingat banyak film layar lebar yang tak sesuai untuk tontonan anak kecil. Gurauan dan celoteh khas anak-anak juga ikut ambil bagian di film ini. Ini adalah cerita tentang anak-anak yang patut diketahui oleh kita. Seringkali orang dewasa menganggap bahwa dirinya sudah berpengalaman, dan anak kecil hanyalah bocah ingusan. Siapa bilang anak-anak tak berhak menentukan impiannya? "Anak-anak punya cara tersendiri untuk menikmati hidup dan meraih impian," tutur sang sutradara, Ifa Isfansyah.
 
Film keluarga ini juga mengambil sepakbola sebagai salah satu latar belakang cerita. Seperti penuturan sang penulis skenario, Salman Aristo, bahwa sepakbola adalah inspirasinya. Tak salah lagi, guliran cerita dalam 'Garuda Di Dadaku' berusaha menggiring kita agar tak gampang menyerah, sekecil apapun impian kita. Juga sebagai nasehat, bahwa tak seorangpun berhak memaksakan kehendaknya, sekalipun kepada bocah kelas 6 SD.

• VIVAnews
Rating
Komentar
MAKMUR MAJID
25/11/2009
Mohon infonya tentang sekolah-sekolah sepak bola di Italia dan Inggris yang memberikan bea siswa untuk didik menjadi pemain sepak bola yang handal kedepan untuk garuda di dadaku.
Balas   • Laporkan
Andy Morinho
15/07/2009
Saya pikir film garuda di dadaku harus di tonton semua anak di indonesia agar lebih punya rasa cinta tanah air, oke
Balas   • Laporkan
ari
24/06/2009
sesuai dengan visinya garuda di dadaku...garuda kebangganku......yaaa menurutku semoga anak2x yg meneonton film ini menemukan inspirasi dan jati diri mereka karena setiap hati kita berkata aku harus bisa.....
Balas   • Laporkan
qky
19/06/2009
film yang pastinya seru coz film itu bisa memacu anak2 Indonesia untuk lebih semangat....go...sepakbola Indonesia....gak ada yg gak mungkin dalam dunia sepak bola....siapa tau generasi berikut Indonesia bisa tampil di PIALA DUNIA.....Y GAK....GAMBATE.....
Balas   • Laporkan
vandai
17/06/2009
waduuuhhh.... spoiler nya kepanjang neh. seharusnya pendek aja singkat gitu. jadi tau deh alur cerita awalnya... film wajib nonton neh.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ