VIVAnews - Sebagai pelaku perfilman, Lola Amaria merasakan sulitnya mendistribusikan film di tanah air. Pengalaman miris pernah Lola alami saat menyebarkan debut filmnya, Betina.
"Bioskop tidak mau menayangkan karena Betina dibuat dalam bentuk digital," kata Lola Amaria, saat ditemui di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Sabtu, 4 Juli 2009. Lola terpaksa roadshow dari kampus ke kampus untuk mempublikasikan filmnya.
Tapi, jangan harap dapat mengantongi keuntungan. "Itu dananya tidak balik," tambah aktris pemain Ca Bau Kan itu. Untuk itu dirinya akan senang sekali jika kota-kota besar di Indonesia memiliki bioskop khusus untuk film digital.
Sambil menunggu impiannya terwujud, Lola terus melahirkan karya. 'Minggu Pagi di Victoria Park' merupakan karya Lola selanjutnya. Film yang syutingnya baru akan dikerjakan sesudah Hari Raya Idul Fitri itu berkisah tentang Tenaga Kerja Wanita Indonesia di Hongkong.
Apa yang istimewa dengan TKW Hongkong, padahal Malaysia, Arab, atau Brunei lebih jadi pilihan para TKI. "Beda TKI Hongkong dengan TKI lain, penghasilan mereka 8 juta, hukumnya jalan, standar tinggi, harus bisa bahasa Canton, mereka juga punya blog sendiri," jelas Lola mantap.
Lewat 'Minggu Pagi di Victoria Park', Lola ingin menggambarkan kisah TKI yang sukses di Hongkong. "Apalagi mereka hasilkan 90 triliun pemasukan negara. Ini pemasukan kedua terbesar setelah migas," tambahnya.
Selain menyutradarai, Lola juga turut bermain, di film yang mengambil lokasi syuting 95 persen di Hongkong itu. Untuk film ini Lola tidak main-main. Berbeda dengan Betina, karyanya kali ini akan tayang di bioskop-bioskop. "Kita tidak ingin film ini jeblok di pasar. Kita kerja keras untuk promo," ucap Lola.
ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews