VIVAnews - Apa impian seorang komposer musik yang sudah puluhan tahun berkarya, seperti Addie MS? Jawabannya sederhana, agar Jakarta, memiliki sebuah concert hall.
Keinginan pria bernama asli Addie Muljadi Sumaatmadja itu tidak berlebihan. Karena menurut Addie, sebuah concert hall tidak hanya menjadi lokasi pagelaran musik simfoni saja, tetapi juga menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa.
"Suka atau tidak suka, concert hall adalah tolak ukur tingkat modernitas suatu bangsa. Bayangkan, Palestina saja punya concert hall dan orkes simfoni," kata ayah dua putra itu, saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 10 Agustus 2009.
Tidak cukup memiliki gedung berkapasitas besar untuk menghelat orkestra simfoni. Karena menurut Addie, selain berkapasitas sekitar seribu hingga dua ribu bangku, syarat utama concert hall adalah, ruangan harus mampu mempagelarkan orkes simfoni, tanpa soundsystem (sistem pengeras suara).
"Jadi yang penonton dengar adalah suara langsung," tambah musisi 49 tahun itu. Di Jakarta, satu-satunya lokasi yang memenuhi syarat tersebut adalah Gedung Usmar Ismail. Tapi, menurut Addie, gedung kesenian yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan itu hanya memuat 400 kursi. "Jadi sponsor enggan mendanai," ungkapnya lagi.
Bocoran dari ayah Kevin Aprilio, personil Viera itu, sebetulnya, Pemprov. DKI Jakarta sedang membangun concert hall di Taman Ismail Marzuki. "Disana sedang dibangun Grand Theater. Tapi, sudah lama sekali hampir sepuluh tahun nggak selesai-selesai," ujar Addie.
Mentoknya, menurut Addie, lagi-lagi masalah pendanaan."Saya heran, dana yang dikeluarkan untuk membangun Grand Theater di TIM, sama dengan dana buat membangun concert hall di Singapura," jelasnya.
Addie beserta kelompok musik Twilite Orchestra dan Twilite Youth Orchestra asuhannya itu sempat tercengang saat tampil di sejumlah negara Asia, seperti Singapura. "Negara sekecil itu saja punya empat concert hall," ujarnya kagum.