VIVAnews - Partai Keadilan Sejahtera meminta pembuat film "Menculik Miyabi" mengurungkan niat mendatangkan bintang porno Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi, ke Indonesia. PKS setuju dengan pendapat Majelis UIama Indonesia yang menyatakan tidak ada manfaatnya mengundang perempuan berdarah campuran Jepang-Kanada itu.
"Kalau soal itu, kami ikut ulama saja," kata juru bicara PKS, Ahmad Mabruri, dalam perbincangan dengan VIVAnews, Jumat 25 September 2009. "Manfaatnya kecil," kata Mabruri, "jadi sebaiknya tak usah."
Mendatangkan Miyabi, ujar Mabruri, lebih banyak mudaratnya. Imejnya sebagai bintang porno jelas menimbulkan kontroversi. "Jadi sebaiknya pakai yang lurus-lurus saja deh," kata Mabruri. "Mendatangkan Miyabi itu kan tidak memberikan pencerahan," ujarnya.
Apalagi, kata Mabruri, Dewan Perwakilan Rakyat baru saja mengesahkan Undang-undang Perfilman yang mengutamakan produksi dalam negeri. "Kalau Undang-undang saja beragenda mengutamakan Indonesia, mengapa harus memakai artis luar?" ujar Mabruri.
Menurut Mabruri, film produksi lokal tetap mengundang animo penonton yang tinggi. Dia mencontohkan film "Ketika Cinta Bertasbih 1" yang mampu meraup penonton lebih dari empat juta. "Di bawah film Laskar Pelangi, namun mengalahkan "Ayat-ayat Cinta"," ujarnya.
Miyabi direncanakan membintangi film Indonesia berjudul 'Menculik Miyabi'. Miyabi akan datang ke Indonesia akhir tahun ini.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan tujuan kedatangan Miyabi ke Indonesia harus ditelusuri. "Kalau dia [Miyabi] mau datang ke Indonesia, dilihat dulu tujuannya apa. Kalau mau main film porno ya kita tolak dengan tegas karena merusak kepribadian bangsa ini," kata Ketua MUI, Amidhan Shaberah kepada VIVAnews, Kamis 24 September 2009 malam.
Sesuai aturan dalam UU Pornografi dan Pornoaksi, tak boleh ada syuting film porno di Indonesia. "Kalau dia [Miyabi] melakukan syuting terhadap atau dengan orang-orang Indonesia, kalau filmnya blue film itu pasti sangat melanggar dong." tegas dia.
"Saya tekankan, kalau main porno jangan disini, apalagi sampai melibatkan orang atau artis Indonesia. Kalau ternyata film itu sangat melanggar, nantinya harus diusir," tambah Amidhan.
Kalaupun 'Menculik Miyabi' diaku bukan film porno, itu harus dipastikan. "Kalau misalnya film itu ada unsur budayanya, harus dilhat dulu skenario dan skripnya, apa benar tidak ada pornografinya," tambah dia.
Namun, Amidhan mengaku khawatir, sebab publik terlanjur mengenal Miyabi sebagai bintang porno. "Karena bintangnya saja sudah porno, jadi tidak ada manfaatnya," tegas Amidhan.
Miyabi akan mendukung film "Menculik Miyabi' produksi Maxima Picture. Skenario film 'Menculik Miyabi' ditulis oleh Raditya Dika yang sukses melalui film 'Kambing Jantan'. Di film ini, Raditya juga ikut menjadi pemeran utamanya.
Film ini menceritakan tiga orang mahasiswa yang terobsesi dengan bintang porno asal Jepang tersebut. Ketiga mahasiswa itu ingin menculik Miyabi ketika mereka tahu artis tersebut berada di Jakarta.